Lewat petang kelmarin, selang-seli sambil memasak makan malam, saya berfikir-fikir seketika, tajuk apa untuk di posting kan ke dalam blog LIFE sesuai untuk tatapan anda pembaca setia. Seorang sahabat saya ada jua mencadangkan agar isu kahwin awal ini diketengahkan, kata saya: ‘tajuk itu dah terlalu banyak orang bincangkan, lagipun saya bukan ahli dalam isu itu. Kahwin pun belum lagi’ bukan saya tidak mahu membawa tajuk itu untuk dikupas, tetapi terlalu subjektif untuk memberikan pandangan apatah lagi pengalaman, andaikata ditanyakan tentang pengalaman, kelu lidah nak menjawabnya, kahwin pun tidak lagi, pengalaman jauh sekali.


Pusing kanan, pusing kiri, belum pun 5 minit, saya mencapai sebuah majalah Indonesia (AYAHBUNDA : edisi 14-27 Ogos 2004), awalnya tak berniat langsung untuk mencari idea dan apa-apa kupasan di dalam majalah itu sebagai posting baru, tetapi saya berubah fikiran seakan terpandang sebuah tajuk yang amat mudah namun menarik untuk dikongsikan. Kerap kali saya membaca majalah itu, tidak pula saya perasan tajuk tersebut, lalu saya tertarik hati untuk membawanya bersama anda. Saya kutip cebisan-cebisan ini adalah daripada pengalaman pembaca-pembaca seberang, kata buku tersebut:

Tidak mudah mengenalkan konsep abstrak pada si balita (anak kecil). Beberapa ibu dan ayah berikut ini punya trik yang patut kita simak (semak dan nilai):


Lewat Telur Ayam


(Sukesi 27 tahun, ibu kepada Jasmin Azizah 3 tahun)-Jakarta


Kami mengenalkan Jasmin pada Tuhan melalui hal-hal sederhana yang ada disekitarnya. Di rumah, kami memelihara beberapa ekor ayam. Jasmin sangat menyayangi ayam-ayam itu. Suatu pagi ia berteriak,”Ibu, kok ada telur di kandang ayam? Siapa yang taruh di sini?” saya jelaskan telur ituberasal dari perut ibu ayam. Kemudian ia bertanya, “Bagaimana telur bisa ada di dalam perut induk ayam?” saya jawab, Tuhanlah yang membuat telur itu ada di dalam perut induk ayam.


Saya juga menambah bahwa Tuhan akan membuat telur itu menetas menjadi ayam kecil dan kemudian menjadi ayam besar, jika dia rajin memberi makan dan minum ayam-ayam kecil itu. Untuk memperjelaskan dan sekaligus memberi bukti nyata pada Jasmin tentang penjelasan itu, saya ajak dia mengamati dan mengikut perkembangan telur ayam dari hari ke hari.


Alhamdulillah, Jasmin bisa memahami telur yang keluar dari induk ayam, yang lantas memunculkan anak ayam kerana Tuhan yang menciptakan. Saya senang Jasmin bisa belajar mengenal Tuhan.


Ritual Sejak dalam Kandungan


(Natasya Astri, ibu kepada Talitha Islamey 1 tahun)


Setelah tahu saya hamil, suami mulai membaca surah Al-Fatihah dan surah Al-Ikhlas setiap malam sebelum tidur di perut saya. Ketika Talitha Islamey A.P. yang kami panggil Adel lahir, kebiasaan berlanjut bertambah dengan selawat nabi yang suami saya senandungkan sambil menggendong Adel. Entah mengapa, Adel selalu gelisah dan tidak nyenyak tidurnya bila ayahnya belum melakukan kegiatan itu. Lucunya, jika Adel tidur lebih dahulu sebelum ayahnya datang, ia selalu terjaga sebentar ketika ayahnya melakukan ritual itudi dekat telinganya.


Begitu pula jikamendengar azan di televise, Adel menghentikan segala aktivitasnya dan sjenak melihat televise. Setelah selesai, ia duduk tenang di ujung sajadah, seolah menunggu ayah dan ibunya salat. Kami berharap ritual kecil seperti it uterus berlanjut hingga ia dewasa.


Berdoa setiap saat


(Lilis Permatasari 32 tahun, ibukepada Alisa Rahma Febrina 4 athun)


Alisa Rahma Febrina atau Icha, sejak kecil saya ajarkan agama. Dia tahu “siapa saya”, dan juga mengenal kasih sayang, beruntung sekali saya tinggal dilingkungan yang taat agama, dan rumah kami dekat mesjid. Apalagi sejak usia dua tahun, Icha saya masukkan playgroup (tadika) di mesjid itu. Selain pendidikan agama di sekolah, saya mengajak Icha mengenal Tuhan dengan cara berdoa setiap akan melakukan kegiatan. Setiap malam menjelang tidur, saya bacakan dongeng kisah kisah para nabi, atau kisah tentang kehidupan. Tak habis-habisnya Icha bertanya siapa Tuhan dan mengapa kita berdoa. Dengan cara sambil bermain, ia paham siapa Tuhan beserta segala ciptaan-Nya.


Sampai suatu saat Icha berkata, “Ma, Icha pingin ketemu Tuhan sebab Tuhan baik sekali sama kita ya....” Saya bangga dengan kecerdasan Icha. Sekarang Icha pun tahu kita harus selalu ingat Tuhan.


“MAMA, AYO PEY!”


(Sherly 27 tahun, Ibu kepada Christopher Timothy 2 tahun)


Kami sudah mengenal Tuhan pada Christopher Timothy sejak ia sangat muda, dengan mengajaknya ke gereja, persekutuan doa, maupun berdoa bersama di rumah. Namanya anak kecil, disurh duduk berdoa sebentar saja ia tak betah. Tapi, setidaknya dia tahu dan melihat kami berdoa bersama. Serinkali saat kami kumpul atau bermain, tiba-tiba Timothy berkata, “Ma...Ma, ayo pey!” saya sempat bingung juga dan bertanya sama Timothy apa maksudnya. Dengan mengatupkan kedua telapak tangannya dia berkata, “Pey... Ma.... pey!” Barulah saya sadar dia mengajak saya untuk ‘pray’ atau ‘berdoa’.


Saya kaget, senang dan terharu campur jadi satu karena anak seusia Timothy sudah tahu dan mengerti di mana pun dan kapan pun kita harus ungat Tuhan.


RUTIN BERIBADAH


(Nian D. Hermanto 34 tahun ibu kepada Fira Salsabila 2 tahun)


Setiap sore sepulang kerja, sayabercengkerama dengan Fira, sambil menonton televise. Jika terdengar azan Maghrib, Fira duduk tertib mendengarkannya. Hal tersebut Fira lakukan sejak berusia satu tahun. Apabila saya melakukan ibadah sembahyangFira suka memperhatikan. Awalnya ia takut melihat saya memakai mukena (telekong). Namun berulang kali say jelaskan bahawa saya sedang beribadah. Tak berapa lama kemudian putrid kami itu dapat melakukan gerakan salat.


Buka itu saja, setiap selesai mendengar azanFira langsung meniru gerakan orang yang sedang beribadah (solat) “Ma... Mama, Allah” Fira pun beraksi dengan gerakkannya. Walaup saya sibuk bekerja, selalu ada waktu luang untuk melakukan kegiatan beribadah secara rutin.


Demikian, sedikit sebanyak perkongsian yang dapat saya bawa untuk tatapan anda kali ini. Ibu bapa pastinya ada cara tersendiri mengenalkan anak-anak mereka pada Tuhan. Dengan cara apa sekalipun, Tuhan mesti diberitahu kepada si kecil tentang kuwujudannya. Bagaimana anda mengenal Tuhan ketika kecil dahulu? Begitulah yang anda harus ceritakan pada anak-anak anda. Selamat mencoba tradisi ini !

Untuk read more, tulis di sini...

2 Responses so far.

  1. salam ziarah kembali...

    entri ini mengingatkan saya kepada nurul hannah, anak saudara sy yang kini darjah 2...dahulu ketika dia berusia 3-4 tahun...setiap kali kami ingin solat...dia turut kelamkabut mahu memakai telekung....setiap pergerakan kami akn ditirunya...sehingga saya sendiri sukar untuk khusyuk kerana lucu dgn telatahnya....(^_^)..moga nurul hannah menjadi anak yg solehah...amin....